Atlet berusia 22 tahun asal Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, tersebut mengaku sempat merasa gugup ketika harus menghadapi Okta yang merupakan juara bertahan.
Namun, ia berusaha mengendalikan emosi dan menjaga konsentrasi sepanjang pertandingan.
“Strateginya, yang penting poin masuk dan bisa mengenai bola lawan. Sama juga menjaga emosi,” tuturnya.
Menurut Fajri, pengalaman dan kemampuan lawannya menjadi tantangan tersendiri. Meski demikian, ia memilih tetap tenang, sabar, serta fokus pada ketepatan setiap lemparan.
“Lawan di final tadi cukup menakutkan karena pemain senior juga. Untuk mengatasi grogi, tetap tenang, sabar, dan fokus ke pertandingan,” katanya.
Strategi tersebut membuahkan hasil. Fajri mampu mempertahankan keunggulan hingga pertandingan berakhir dengan skor 13-5 sekaligus memastikan dirinya berdiri di podium tertinggi.












