Bayangkan selang air untuk menyiram taman. Jika Anda memaksa volume air besar melalui selang kecil, air akan menyembur kencang, tetapi tekanan di dalam selang sangat tinggi dan mudah tersumbat.
Itulah kondisi lama Semarang. Saluran sempit memaksa air mengalir dengan kecepatan tinggi dan tekanan besar. Sedikit hambatan sampah, sedimentasi langsung membuatnya mampet. Konsekuensinya, air meluap.
Kini, dengan saluran yang empat kali lebih lebar, hukum alam bekerja. Untuk volume air hujan yang sama, air tidak perlu “terburu-buru”.
Ia bisa mengalir lebih lancar dan tenang. Pelebaran ini seperti memberi “ruang bernapas” bagi aliran air. Risiko penyumbatan berkurang drastis karena air tidak lagi “berebutan tempat”.
Seperti kata wali kota, ini adalah “rekayasa ulang batas kemampuan infrastruktur” untuk menerima beban yang lebih besar.
Polder dan Pompa, Duet Tangguh Penjinak Air












