“Kawasan Pecinan ini sudah siap menjadi destinasi wisata global. Kita ingin event seperti ini terus hidup dan tumbuh makin berkualitas. Ketika kita merawat budaya, ekonomi kita bergerak, kawasan cagar budaya makin hidup, dan generasi muda akan memiliki kebanggaan terhadap kotanya sendiri,” katanya.
Momentum bulan ini pun terasa kental dengan nuansa spiritualitas yang unik. Bertemunya perayaan Imlek 2577 dengan persiapan bulan Ramadan 1447 Hijriah serta masa Prapaskah umat Kristiani menciptakan sebuah simfoni religi yang langka.
Fenomena warga dari berbagai keyakinan yang menjalankan ibadah puasa dalam waktu yang bersamaan dipandang sebagai puncak keharmonisan sosial di Kota Semarang.
“Inilah Semarang, kita mendapatkan momentumnya. Ada tiga agama yang menjalani persiapan hari besar bersama-sama dalam sebuah simfoni spiritual yang asri. Doa kita bersama, semoga Semarang selalu menjadi rumah yang teduh bagi siapa pun yang tinggal dan datang ke kota ini. Kuda datang, sukses menjelang,” pungkasnya.***












