Peserta yang terlibat berasal dari berbagai unsur, mulai dari sekolah Kristen dan Katolik, gereja-gereja se-Kota Semarang, perguruan tinggi, rumah sakit, organisasi perempuan, hingga komunitas lintas agama seperti PELITA dan perwakilan Parisada Hindu Dharma Indonesia.
Keterlibatan lintas elemen ini menegaskan komitmen Semarang dalam merawat toleransi melalui aksi nyata di ruang publik.
Untuk mendukung kelancaran kegiatan, Pemerintah Kota Semarang akan memberlakukan rekayasa lalu lintas secara bertahap mulai pukul 13.00 WIB.
Sejumlah simpang strategis seperti Imam Bonjol, Agus Salim, Gajahmada, Letjen Suprapto, Sendowo, hingga Ki Nartosabdo akan mengalami pengalihan arus.
Jalan Pemuda, sebagai jalur utama kirab, akan ditutup sementara selama kegiatan berlangsung.
Penutupan juga diberlakukan di kawasan Simpang Paragon dan Cendrawasih, dengan pengaturan lanjutan bersifat situasional sesuai kondisi di lapangan.












