Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa penggabungan dua agenda tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan strategi untuk menjaga keberlangsungan budaya di tengah perkembangan zaman.
“Kami ingin tradisi tetap hidup dan relevan. Mahakarya Goa Kreo menjadi ruang ekspresi generasi muda, sementara Sesaji Rewanda menguatkan nilai spiritual dan rasa syukur kepada Tuhan melalui penghormatan terhadap alam,” ujarnya.
Prosesi sakral Sesaji Rewanda akan diawali dengan kirab dari Masjid Al-Mabrur menuju kawasan Goa Kreo.
Dalam iring-iringan tersebut, replika kayu jati yang melambangkan perjuangan Sunan Kalijaga akan dipikul oleh delapan orang, diikuti sembilan Santri Kanjengan serta ikon khas kawasan tersebut, Kera Bangbintulu.
Tak hanya itu, enam gunungan berisi hasil bumi turut dikirab, mulai dari Gunungan Sesaji, buah-buahan, nasi kuning, hasil pertanian, kupat lepet, hingga nasi golong.












