“Makanan khas Muslim Tiongkok dari Xinjiang ini mungkin belum banyak yang pernah mencoba. Ini juga bagian dari upaya memperkenalkan keberagaman budaya,” tambah Harjanto.
Imlek 2026 yang memasuki Tahun Kuda dimaknai sebagai tahun penuh dinamika dan energi. Menurut Harjanto, kuda melambangkan kekuatan, gerak cepat, dan pertunjukan besar, selaras dengan semangat kebangkitan ekonomi dan pariwisata.
Menariknya, tahun ini Pasar Imlek Semawis digelar beriringan dengan Pasar Dugderan, tradisi jelang Ramadan khas Kota Semarang. Dua agenda budaya besar ini diharapkan saling menguatkan, bukan bersaing.
“Budaya Tionghoa, Islam, dan Jawa itu kalau dipadukan seperti masakan yang diberi garam, rasanya justru semakin nikmat,” tuturnya.
Sinergi kedua event budaya tersebut diyakini mampu meningkatkan kunjungan wisata serta menggairahkan perekonomian kota. Antusiasme pelaku UMKM pun terlihat tinggi, membawa produk dan semangat baru di tengah harapan kebangkitan ekonomi Kota Semarang pada tahun 2026.












