Keesokan harinya, ribuan tentara Jepang bersenjata lengkap menyerbu pusat Kota Semarang.
Serangan tersebut mendapat perlawanan dari para pemuda, Badan Keamanan Rakyat (BKR), polisi, serta masyarakat yang menggunakan senjata seadanya.
Pertempuran berakhir pada 18 Oktober 1945 setelah dilakukan perundingan. Peristiwa tersebut menelan korban jiwa dari kalangan pemuda dan pejuang yang jumlahnya diperkirakan mencapai 2.000 orang.
“Yang berjuang waktu itu orang-orang biasa. Tugas kita yang hidup hari ini adalah merawat apa yang mereka tinggalkan,” ujar Agustina.
Libatkan Ribuan Peserta
Peringatan tahunan yang diselenggarakan melalui Dinas Sosial Kota Semarang ini melibatkan lebih dari 2.000 orang.
Sebanyak 1.051 peserta upacara berasal dari unsur TNI, Polri, taruna, pelajar, mahasiswa, dan relawan sosial. Selain itu, terdapat sekitar 300 tamu undangan serta personel pendukung dari 37 instansi dan perangkat daerah.












