“Peristiwa ini menjadi bukti bahwa semangat bela negara mampu menjaga Indonesia tetap berdiri bahkan dalam kondisi paling genting,” imbuhnya.
Namun, dia menekankan bahwa semangat yang lahir di masa revolusi tersebut kini harus diadaptasi untuk menjawab tantangan zaman yang telah berubah.
Menurutnya, ancaman bagi kedaulatan bangsa saat ini tidak lagi datang dalam bentuk senjata, melainkan melalui kerentanan di berbagai sektor kehidupan modern.
“Dunia saat ini berada dalam dinamika yang sangat cepat dan penuh ketidakpastian. Tantangan kemajuan bangsa tidak lagi bersifat konvensional, melainkan hadir dalam bentuk disrupsi teknologi, ancaman siber, manipulasi informasi, hingga bencana alam,” jelasnya.
“Tentunya dalam situasi seperti ini, semangat bela negara harus menjadi kekuatan kolektif seluruh warga Indonesia,” lanjut Agustina menjelaskan.












