Lia, pemilik sekaligus koordinator produk khas Aceh, menjelaskan bahwa keikutsertaan mereka dalam expo ini merupakan bagian dari program UMKM Sumatera Bangkit yang melibatkan Provinsi Aceh, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat.
Ia hadir bersama suami dan putranya dengan dukungan penuh fasilitas dari Kementerian Koperasi dan UMKM.
“Kami ingin menggerakkan kembali ekonomi para perajin yang sempat terhenti akibat banjir. Banyak akses jalan dan distribusi yang terputus,” ujar Lia saat ditemui pada pembukaan expo, Rabu, 11 Februari 2026.
Dalam kondisi normal, Lia mampu memproduksi sekitar 300 tas dan kain pucuk rebung setiap bulan.
Produk-produk tersebut bahkan pernah menembus pasar ekspor hingga Australia. Saat ini, ia memberdayakan 15 karyawan untuk memproduksi tas, kain pucuk rebung, serta mengemas Kopi Gayo.
Untuk mengikuti pameran di Purworejo, Lia membawa barang dalam jumlah terbatas, menyesuaikan kapasitas kargo pesawat.












