Ia memastikan total muatan tidak melebihi 60 kilogram agar terhindar dari biaya tambahan.
“Sebelum berangkat, semua barang kami timbang dulu supaya tidak over,” tuturnya.
Di arena expo, Kopi Gayo kemasan 250 gram dipasarkan seharga Rp150 ribu. Meski tergolong premium, minat pembeli cukup tinggi.
Sejumlah pejabat daerah terlihat membeli produk tersebut saat meninjau stan usai pembukaan resmi oleh bupati.
Menurut Lia, Kopi Gayo memang menjadi salah satu komoditas unggulan UMKM Aceh yang telah dikenal luas.
Selain kopi, tas dan kain pucuk rebung juga banyak menarik perhatian, khususnya pengunjung perempuan.
Keikutsertaan di Purworejo menjadi pengalaman pertama bagi Lia. Sebelumnya, ia pernah mengikuti pameran serupa di Semarang dengan fasilitasi dari kementerian yang sama.
Ia berharap dukungan tersebut dapat terus berlanjut agar para perajin Aceh semakin pulih dan mampu menjaga kesinambungan produksi.












