Wali Kota Semarang juga menekankan bahwa toleransi bagi Kota Semarang berarti memastikan setiap warga merasa aman menjalankan ibadahnya.
“Bagi kami, toleransi adalah bagaimana setiap warga merasa aman menjalankan ibadahnya, bagaimana perbedaan hadir tanpa rasa curiga, dan bagaimana kita saling menyapa sebagai sesama manusia dengan hormat dan hangat,” lanjutnya.
Selain memperkuat komitmen lintas iman, Pemerintah Kota Semarang juga memperluas makna inklusivitas melalui pembangunan Rumah Inspirasi Disabilitas.
Dari 16 kecamatan di Kota Semarang, sebanyak tujuh rumah inspirasi telah beroperasi menjadi ruang bertemu, bermain, dan memperoleh akses yang setara bagi penyandang disabilitas.
“Setiap kecamatan akan mendapatkan akses dan ruang untuk bermain, bertemu, dan diperlakukan setara dengan seluruh warga Kota Semarang,” tegas Agustina.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang kota yang inklusif, agar seluruh warga, termasuk kelompok difabel, dapat terlibat aktif dalam kehidupan sosial.












