Menurutnya, Semarang memiliki karakter sebagai kota yang terbuka dan ramah terhadap pendatang. Karakter tersebut terbentuk melalui sejarah panjang kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dalam keberagaman.
Ia mencontohkan kawasan Kota Lama, Pecinan, Kauman, Pekojan hingga Kampung Melayu yang sejak dahulu menjadi bagian dari kehidupan Kota Semarang.
“Semarang sejak dulu terbentuk sebagai kota yang mampu hidup berdampingan. Keberagaman bukan sekadar pilihan, tetapi menjadi bagian dari kesepakatan dan perjalanan sejarah masyarakat Kota Semarang,” ujarnya.
Agustina mengatakan suasana kondusif dan toleran tersebut menjadi modal penting bagi pertumbuhan kota. Menurutnya, perkembangan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan kehidupan sosial dan budaya yang harmonis.
Ia juga menyinggung keberhasilan penyelenggaraan berbagai event besar di Kota Semarang, termasuk Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI 2026 yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang.












