Menurutnya, panggung rebana tidak hanya mempertemukan peserta dalam suasana kompetisi, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan dan silaturahmi.
“Semuanya itu diniatkan untuk memberi ruang kepada budaya Kota Semarang yang mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Agustina.
Ia menilai, pertemuan kelompok rebana dari berbagai wilayah juga memberikan gambaran mengenai keberagaman seni yang dimiliki Indonesia.
Setiap kelompok datang dengan karakter dan warna musikal masing-masing. Perbedaan tersebut justru menjadi bagian dari harmoni yang tercipta selama festival berlangsung.
“Panggung rebana menjadi tempat berkompetisi sekaligus ruang bersilaturahmi dan memperkenalkan kekayaan seni yang tumbuh di berbagai wilayah Indonesia. Semoga rebana semakin berkembang dan memberi warna bagi keberagaman seni di Indonesia, Jawa Tengah, dan Kota Semarang,” katanya.












