Menurutnya, kemajuan sebuah kota tidak cukup hanya diukur melalui pembangunan infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kekuatan modal sosial dan persaudaraan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Tari Dug Dug Der diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat kohesi sosial sekaligus menegaskan karakter Semarang sebagai kota yang aman, inklusif, toleran, dan kondusif.
“Budaya adalah perekat kehidupan sosial. Saat warga dari berbagai latar belakang dapat menari bersama tanpa sekat, di situlah kita memperlihatkan wajah asli Kota Semarang: rukun, terbuka, dan menghargai keberagaman. Inilah modal terbesar kita untuk membangun masa depan,” tegasnya.
Libatkan 25 Ribu Penari
Sebagai bagian dari upaya memperkenalkan dan memasyarakatkan Tari Dug Dug Der, Pemerintah Kota Semarang menggelar Festival Tari Dug Dug Der Semarang 2026 pada Minggu (9/8/2026).












