“LMS mulai diterapkan nanti pada semester gasal 2026/2027,” katanya.
Menurut Haslina, LMS pada dasarnya dirancang untuk mempermudah interaksi dan kegiatan pembelajaran antara dosen dan mahasiswa. Berbagai kebutuhan pembelajaran dapat dilakukan melalui satu platform digital.
Bagi dosen, misalnya, LMS dapat dimanfaatkan untuk mengunggah materi perkuliahan, membuat kuis maupun soal ujian, hingga menyusun laporan penilaian mahasiswa.
Sementara bagi mahasiswa, keberadaan LMS memberikan kemudahan untuk mengakses materi perkuliahan secara daring tanpa terbatas ruang dan waktu.
“LMS membuat pengajar dan siswa dapat melakukan kegiatan belajar mengajar secara online secara efektif dan efisien dengan memanfaatkan fitur yang tersedia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Haslina menjelaskan LMS bukan sekadar tempat menyimpan materi perkuliahan.
Platform tersebut juga dapat membantu pengelolaan proses pembelajaran, mulai dari penyampaian materi, pembuatan laporan, hingga pemantauan perkembangan dan penilaian mahasiswa.












