Selain pengembangan maggot, Pemkot Semarang juga membahas penggunaan biodekomposer untuk mempercepat proses penguraian sampah organik.
Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan bau dan limbah cair, baik di tempat penampungan sementara (TPS) maupun TPA Jatibarang.
Pembahasan juga menyentuh potensi pemanfaatan cairan lindi sebagai bahan baku pupuk hayati. Pengolahan hasil samping sampah tersebut dinilai dapat membuka peluang pemanfaatan limbah untuk mendukung kebutuhan sektor pertanian.
Mangontang Simanjuntak menilai, keberhasilan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan perubahan perilaku masyarakat. Perlu ada nilai ekonomi yang jelas agar masyarakat memiliki dorongan untuk ikut terlibat dalam proses pengurangan dan pengolahan sampah sejak dari rumah tangga.
“Mindset kita paling utama soal sampah. Tapi sampah ini tidak akan bisa kita kerjakan kalau tidak ada ekonominya. Maka kita harus menciptakan ekonomi, salah satunya adalah dengan kandang 5 ekor tadi,” kata Mangontang.












