Pawai tahun ini semakin semarak dengan kehadiran empat Ogoh-Ogoh utama yang mendapat dukungan dari komunitas PHDI di Semarang, Kendal, hingga Jepara.
Berbagai kesenian tradisional turut memeriahkan arak-arakan, seperti Beleganjur, Barongsai, Rebana, dan Topeng Ireng yang berpadu di sepanjang jalan protokol.
Agustina juga menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari perayaan atas capaian Semarang sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia.
Berdasarkan Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 yang dirilis oleh SETARA Institute, Semarang berhasil menempati peringkat ketiga secara nasional.
“Capaian ini menjadi anugerah luar biasa bagi Semarang sebagai kota metropolitan yang sangat heterogen,” katanya.
“Hal ini membuktikan bahwa di tengah kompleksitas kota besar, warga Kota Semarang mampu menjadi teladan toleransi bagi seluruh Indonesia,” tegasnya.












