Pawai Ogoh-Ogoh tahun ini mengusung tema “Memayu Hayuning Bhawono, Memayu Hayuning Sesami, dan Memayu Hayuning Diri” sebagai simbol upaya menjaga harmoni dan toleransi di tengah masyarakat.
Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen, mulai dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jepara, PHDI Kendal, hingga kelompok Beleganjur dari Yogyakarta, yang akan tampil bersama kesenian lokal seperti rebana, angklung, barongsai, dan warak ngendog.
Selain menjadi ajang budaya, perayaan ini juga dimaksudkan untuk merayakan capaian Semarang sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia.
Rangkaian acara akan ditutup dengan pementasan sendratari “Legenda Rawa Pening” di kawasan Simpang Lima.
Agustina mengajak masyarakat untuk turut menyaksikan kemeriahan acara tersebut dengan tetap menjaga ketertiban dan kebersihan.
“Mari ajak keluarga dan kerabat untuk datang dan menyaksikan langsung kemeriahan Pawai Ogoh-Ogoh. Mari kita rayakan keberagaman dan indahnya toleransi di Kota Semarang,” pungkasnya.***












