Menurutnya, nilai-nilai perdamaian yang dibawa para biksu memiliki keselarasan dengan karakter masyarakat Semarang yang menjunjung tinggi keberagaman.
Ia menyebut filosofi lokal seperti Warak Ngendog menjadi representasi nyata perpaduan budaya dan keyakinan yang hidup berdampingan.
Tradisi budaya seperti Dugderan hingga pawai Ogoh-Ogoh disebut tetap berjalan harmonis dengan dukungan seluruh elemen masyarakat tanpa sekat agama.
Hal ini, kata dia, memperlihatkan bahwa semangat toleransi telah menjadi bagian dari identitas kota.
Penguatan nilai kerukunan juga tidak lepas dari peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang aktif menjaga komunikasi lintas iman hingga tingkat kecamatan.
Pemerintah Kota Semarang, lanjutnya, berkomitmen menjaga ruang sosial yang inklusif di tengah dinamika kota metropolitan.
Sebelum melepas keberangkatan rombongan untuk melanjutkan perjalanan menuju perayaan Waisak, Wali Kota turut menyampaikan doa keselamatan bagi para biksu.












