Menurut dia, patroli tersebut diperkuat dengan penyiraman berkala oleh Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang yang dilakukan setiap dua hari sekali.
DLH juga menerapkan sistem on-call dengan waktu respons kurang dari 15 menit untuk mempercepat penanganan apabila terjadi kondisi darurat.
Sejumlah langkah teknis juga disiapkan untuk mengantisipasi potensi kebakaran, termasuk kebakaran bawah permukaan atau subsurface fire yang dapat terjadi di dalam timbunan sampah.
DLH menyiagakan delapan titik pipa injeksi air yang dapat digunakan untuk memasukkan air ke dalam timbunan. Selain itu, petugas melakukan flaring gas metana setiap hari, penyemprotan biodekomposer,
serta penutupan tanah atau soil cover secara bertahap pada zona aktif maupun pasif.
“Semua langkah ini kami lakukan sebagai bagian dari mitigasi agar potensi kebakaran dapat dicegah dan apabila terjadi titik api bisa segera ditangani,” jelas Glory.












