“Kalau kita membayangkan seorang anak-anak muda yang membuat karakter komik misalnya, menciptakan gim atau membuat film dengan teknologi tertentu atau secara manual sebenarnya dia sedang membangun sebuah narasi. Nah, narasi itu adalah narasi yang hidup,” ungkapnya.
Semarang, lanjut dia, memiliki kekayaan cerita yang tidak pernah habis untuk digali. Sejarah kota, budaya, karakter masyarakat, kuliner, kawasan Kota Lama hingga berbagai identitas lokal dapat menjadi bahan bagi generasi muda untuk menciptakan karya baru.
Cerita-cerita tersebut dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari film, animasi, komik, gim, desain hingga konten digital.
“Kota Semarang ini memiliki banyak cerita. Tinggal bagaimana cerita-cerita itu kita dekatkan dengan anak-anak muda, lalu mereka punya ruang untuk mengolahnya menjadi karya,” ujarnya.
Ia menilai, perjalanan sebuah karya kreatif tidak berhenti ketika karya tersebut selesai dibuat.












