“Kami ingin menunjukkan kerja keras dari seluruh elemen masyarakat, semuanya menjaga. Kami berada pada sebuah kesadaran bahwa Kota Semarang sebagai kota perdagangan dan jasa yang titik beratnya ada di pariwisata. Hanya satu saja modalnya yaitu damai. Kalau tidak damai ruwet semua,” kata Agustina.
Ia menjelaskan, kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman bukan sesuatu yang terbentuk secara instan. Kondisi tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan keterlibatan dan kesadaran seluruh elemen masyarakat.
Agustina menyebut, salah satu bentuk apresiasi atas upaya menjaga kerukunan tersebut terlihat dari penghargaan Harmony Award yang diterima Kota Semarang sebagai terbaik pertama se-Indonesia dalam kategori Kinerja Pemerintah Daerah Tingkat Kota dalam mengelola kerukunan umat beragama.
“Hasilnya hari ini saya sebagai Wali Kota Semarang panen. Toleransi sudah terjaga. Kita mendapat penghargaan dalam ajang Harmony Award, terbaik pertama se-Indonesia, untuk kategori Kinerja Pemerintah Daerah Tingkat Kota dalam mengelola kerukunan umat beragama,” ujarnya.












