BeritaNasional

25 Ribu Peserta Padati Simpang Lima, Tari Dug Dug Der Semarangan Torehkan Rekor Nasional

27
×

25 Ribu Peserta Padati Simpang Lima, Tari Dug Dug Der Semarangan Torehkan Rekor Nasional

Sebarkan artikel ini

“Budaya harus hidup. Anak-anak muda harus mengenal, mempelajari, dan ikut mengekspresikannya. Kalau masyarakat ikut menari, budaya itu tidak disimpan sebagai sejarah semata, melainkan benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” katanya.

Menghidupkan Kembali Semangat Dugderan

Tari Dug Dug Der Semarangan memiliki keterkaitan dengan tradisi Dugderan yang telah berkembang di Kota Semarang sejak abad ke-19.

Nama Dugderan sendiri lahir dari perpaduan bunyi bedug yang disebut “dug” dan dentuman meriam “der”.

Tradisi tersebut menjadi penanda datangnya bulan Ramadan dan kemudian berkembang menjadi salah satu identitas budaya Kota Semarang.

Dalam perkembangannya, Dugderan juga tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Warak Ngendog yang menjadi ikon dan simbol akulturasi berbagai budaya yang tumbuh di Kota Semarang.

Nilai keberagaman tersebut kemudian diterjemahkan dalam Tari Dug Dug Der Semarangan sebagai sebuah karya seni yang dapat dinikmati dan dilakukan secara bersama-sama.