“Jangan sampai hari ini kita mencetak rekor, besok selesai. Rekor ini kita jadikan titik awal untuk memperluas gerakan budaya di seluruh wilayah,” tutur Agustina.
Festival Tari Dug Dug Der Semarangan akhirnya tidak hanya meninggalkan catatan angka 25 ribu peserta. Dari Lapangan Pancasila Simpang Lima, masyarakat Kota Semarang menunjukkan bahwa tradisi dapat dikemas secara kreatif tanpa kehilangan akar sejarahnya.
Budaya pun tidak lagi sekadar menjadi warisan masa lalu. Di tangan generasi hari ini, budaya dapat menjadi ruang perjumpaan, sumber kebanggaan, sekaligus kekuatan sosial yang menyatukan masyarakat dan mempertegas identitas Kota Semarang.***












