Menurut dia, keberadaan kegiatan seni secara rutin dapat memberikan ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga di sekitar kawasan.
Gagasan itu salah satunya terlihat dari keterlibatan anak-anak dalam pertunjukan seni Nostalgia Dugderan. Mereka tampil membawakan sejumlah kesenian, termasuk tari Gado-Gado Semarang.
Bagi Agustina, panggung budaya bukan sekadar tempat untuk menunjukkan kemampuan seni.
Lebih dari itu, proses latihan hingga tampil di hadapan masyarakat menjadi bagian dari upaya menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini.
“Latihan menari bukan sekadar menggerakkan tubuh, melainkan harus menjiwai. Lewat wejangan para pelatih, anak-anak merasa tarian tersebut adalah bagian dari diri mereka,” katanya.
Ia menilai kesempatan tampil di hadapan tokoh masyarakat serta tamu dari berbagai daerah juga dapat menjadi pengalaman yang berkesan bagi anak-anak.












