Iswar juga mengungkapkan adanya peningkatan frekuensi banjir yang cukup signifikan sepanjang tahun 2026.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya genangan besar di kawasan Muktiharjo hanya terjadi satu hingga dua kali dalam setahun, kini kejadian serupa telah tercatat sebanyak lima kali.
Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi sinyal bahwa persoalan lingkungan harus ditangani secara serius dan menyeluruh oleh seluruh daerah yang saling terhubung dalam satu kawasan.
“Ini bukan sekadar persoalan Kota Semarang. Jika ditangani sendiri, berapa pun kemampuan fiskal yang dimiliki tidak akan pernah cukup. Karena itu dibutuhkan kesepahaman bersama dalam pengelolaan lingkungan dan tata ruang antarwilayah,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa upaya teknis seperti normalisasi sungai, pembangunan infrastruktur pengendali banjir, maupun pengerukan sedimentasi tetap diperlukan.












