Pementasan Malin Kundang menjadi salah satu contoh bagaimana seni dapat dipadukan dengan pendidikan karakter.
Para murid belajar memahami peran, mengelola emosi, menyampaikan pesan, serta bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing dalam sebuah pertunjukan.
Di sisi lain, kehadiran mereka di tengah permukiman warga juga membuka ruang interaksi yang lebih hangat antara satuan pendidikan nonformal dengan masyarakat.
Panggung seni yang awalnya menjadi bagian dari kegiatan warga akhirnya menjadi ruang bersama.
Murid belajar dari masyarakat, sementara masyarakat turut menyaksikan proses tumbuh dan berkembangnya anak-anak yang menjalani pendidikan di lingkungan mereka.
Bagi Piwulang Becik, pengalaman semacam itu menjadi bagian penting dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu beradaptasi, berkomunikasi dan mengambil peran positif di tengah masyarakat.












