“Ini menjadi contoh bagaimana rasa tanggung jawab sosial bisa tumbuh dari masyarakat, khususnya kaum perempuan,” imbuhnya.
Menurutnya, apresiasi tersebut menunjukkan bahwa peran perempuan di Kota Semarang, khususnya melalui Posyandu, merupakan praktik baik (best practice) yang relevan secara global dalam memperkuat sistem kesehatan berbasis masyarakat.
Selain di sektor kesehatan, kontribusi perempuan juga tampak dalam gerakan pengelolaan lingkungan “Semarang Wegah Nyampah” melalui bank sampah.
Keterlibatan aktif kader PKK dan komunitas dalam program ini turut mendorong perputaran ekonomi masyarakat hingga mencapai Rp2,2 miliar.
Komitmen Pemkot Semarang dalam penguatan peran perempuan juga diwujudkan melalui pembentukan 177 Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak yang tersebar di seluruh wilayah kota.
Program tersebut menjadi garda terdepan dalam memastikan perempuan dan anak memperoleh perlindungan sekaligus ruang untuk berkembang.












