“Kebijakan ini tidak berpihak pada rakyat kecil. Bukan hanya pemilik usaha, tetapi juga ratusan warga yang bekerja di sektor ini ikut terdampak. Jika pesanan berhenti, penghasilan mereka juga hilang,” ujarnya.
Selain menyoroti dampak ekonomi, para pedagang juga membantah alasan pelarangan yang dikaitkan dengan isu lingkungan.
Mereka menilai anggapan bahwa karangan bunga menjadi sampah yang tidak dapat didaur ulang tidak sepenuhnya tepat.
Menurut salah satu pengusaha karangan bunga, Afri, mengatakan bahwa sebagian besar material yang digunakan justru bersifat pakai ulang.
Rangka bambu dan papan styrofoam, misalnya, dapat digunakan kembali untuk pesanan berikutnya.
Begitu pula bunga berbahan kain atau plastik yang bisa dirangkai ulang setelah dibersihkan.
“Bahan-bahan itu merupakan aset produksi kami, bukan sampah sekali pakai. Hampir semuanya digunakan kembali,” kata Afri, salah satu pengusaha karangan bunga.












