Fadli Zon menegaskan bahwa perangko, dokumen pos, serta arsip sensor yang digunakan pemerintah militer Jepang merupakan saksi sejarah yang merekam dinamika geopolitik Perang Dunia II di kawasan Asia Pasifik.
“Yang fana adalah waktu, tetapi arsip dan memori bangsa akan selalu abadi. Mari kita merawat keabadian sejarah tersebut,” tegasnya.
Ia juga mengajak kalangan akademisi, peneliti, pelajar, dan generasi muda untuk memanfaatkan pameran filateli sebagai sarana belajar sejarah yang autentik dan berbasis arsip.
Sebagai penutup kegiatan, Pemerintah Kota Semarang bersama Kementerian Kebudayaan membagikan suvenir eksklusif berupa amplop dan kartu pos filateli kepada para tamu undangan.
Pameran filateli yang menampilkan berbagai arsip dan koleksi terkait masa pendudukan Jepang tersebut terbuka untuk masyarakat umum dan berlangsung di Rumah Pohan, Kota Lama Semarang, mulai 31 Mei hingga 7 Juni 2026.***












