Pada hari kedua kegiatan, peserta mengikuti simulasi bencana yang dibagi ke dalam empat kelompok, yakni sebagai korban, tim evakuasi dan pengungsian, pusat data dan informasi, serta dapur umum.
Setelah menerima briefing mengenai peran masing-masing, peserta menjalankan simulasi secara menyeluruh.
Dalam praktiknya, peserta dilatih menangani evakuasi penyandang disabilitas fisik dan netra, yang membutuhkan pendekatan khusus dan pemahaman terhadap keterbatasan yang ada.
Setelah proses evakuasi, tim pusat data melakukan pendataan korban, sementara tim dapur umum menyiapkan logistik untuk didistribusikan ke pengungsian.
Simulasi tersebut juga dirancang menyerupai kondisi nyata, termasuk penyediaan konsumsi bagi seluruh peserta dan fasilitator, guna memberikan gambaran situasi kebencanaan secara lebih komprehensif.
“Di akhir simulasi, dilakukan evaluasi. Banyak peserta menyampaikan kesan dan harapan mereka jika menghadapi kondisi bencana yang sesungguhnya,” ujar Wishnu.












