Menurut Zulfikar, instruksi yang jelas, spesifik, dan terperinci akan membantu AI menghasilkan jawaban yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Sebaliknya, prompt yang terlalu umum berpotensi menghasilkan jawaban yang melebar dan tidak sesuai dengan tujuan awal.
“Semakin detail semakin bagus, jadi jangan menganggap AI itu dukun. Dengan prompt yang hanya sederhana, dia akan melebar ke mana-mana.
Kita harus memberikan batasan sesuai dengan apa yang kita inginkan,” tambahnya.
Melalui workshop ini, Pascasarjana USM mendorong mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan digital sekaligus membangun pemahaman mengenai penggunaan AI yang bertanggung jawab dalam dunia akademik.
Pemanfaatan AI diharapkan dapat membantu mahasiswa meningkatkan efektivitas penulisan jurnal dan tugas akhir, dengan tetap menempatkan kemampuan berpikir kritis, validitas data, orisinalitas, dan integritas ilmiah sebagai prinsip utama dalam menghasilkan karya akademik yang berkualitas.***(bgy)












