Saat itu harga masih berada di kisaran Rp125.000 per kilogram, namun terus meningkat hingga kini menyentuh Rp140.000 per kilogram.
Menurutnya, situasi tersebut membuat para pedagang semakin resah karena penjualan terus menurun sementara modal yang harus dikeluarkan semakin besar.
“Harga yang tidak terjangkau membuat masyarakat enggan membeli. Kami tentu berharap kondisi ini segera membaik,” tambahnya.
Apriyatun menegaskan, aksi penghentian penjualan yang dilakukan sekitar 70 pedagang bukan merupakan bentuk demonstrasi.
Langkah tersebut lebih sebagai upaya menyampaikan aspirasi kepada pemerintah agar segera mengambil kebijakan untuk menstabilkan harga daging sapi.
“Kami tidak berdemo. Kami hanya berharap ada perhatian dari pemerintah, misalnya melalui subsidi atau kebijakan lain agar harga kembali stabil. Dengan begitu pedagang tidak resah dan masyarakat juga bisa membeli daging dengan harga yang lebih terjangkau,” tuturnya.












