“Informasi yang dibutuhkan kini dapat diakses lebih cepat sehingga masyarakat memperoleh layanan kesehatan secara lebih efektif,” imbuhnya.
Menurutnya, selama ini data pelayanan kefarmasian masih tersebar di berbagai fasilitas kesehatan sehingga belum terintegrasi secara optimal.
Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan proses pengawasan pemerintah, tetapi juga membatasi akses masyarakat terhadap informasi mengenai layanan apotek dan ketersediaan obat.
Melalui Pharma City, sebanyak 445 apotek di Kota Semarang kini telah terhubung dalam satu sistem digital yang menjadi pusat data pelayanan kefarmasian.
Integrasi tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh informasi secara cepat dan akurat, sekaligus memperkuat pengawasan terhadap mutu pelayanan serta keamanan peredaran obat.
Selain memberikan kemudahan bagi masyarakat, sistem digital ini juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan.












