Selain masalah kesehatan mental, Eko juga menyoroti tingginya fenomena fatherless atau minimnya peran ayah dalam pengasuhan di Indonesia. Hal ini dinilai berdampak langsung pada kesejahteraan psikologis dan sosial generasi muda.
Untuk menangani masalah tersebut, DP3A Kota Semarang menggandeng Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) untuk menyediakan layanan konseling profesional.
“Kerja sama ini diharapkan memperkuat layanan yang sudah ada, seperti Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) dan UPTD PPA, serta menghadirkan pendampingan psikologis, pemulihan trauma, penguatan kapasitas keluarga, dan pencegahan kekerasan,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua LPPM UPGRIS, Prof. Dr. Wiyaka, memastikan pihaknya akan mengerahkan tenaga psikolog profesional untuk mendukung layanan konsultasi bagi masyarakat. Sinergi ini bertujuan agar layanan perlindungan anak dan perempuan di Semarang menjadi lebih mudah diakses dan berkualitas.










