“Perbedaan pandangan adalah bagian dari kehidupan demokrasi. Yang membanggakan, masyarakat Kota Semarang mampu menyampaikan pendapat dengan santun dan tetap menjaga suasana yang kondusif. Ini menunjukkan bahwa budaya dialog dan saling menghargai tumbuh kuat di kota kita,” jelasnya.
Momentum Tahun Baru Hijriah yang bertepatan dengan Malam Satu Suro, lanjut Agustina, menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah daerah harus dibangun melalui kerja keras yang disertai semangat kebersamaan dan keteduhan hati.
“Tahun Baru Hijriah mengajarkan semangat hijrah menuju kebaikan, sementara Satu Suro mengajak kita melakukan refleksi. Keduanya mengingatkan pentingnya memperbaiki diri, memperkuat persaudaraan, dan menata masa depan bersama,” tuturnya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Semarang akan terus menjaga ruang kebersamaan agar seluruh warga dapat hidup berdampingan secara harmonis.












