“Kota Semarang hadir membawa cerita panjang tentang kota yang tumbuh dari pertemuan berbagai budaya. Keberagaman itu bukan menjadi pemisah, tetapi justru menjadi kekuatan yang membuat Semarang tumbuh sebagai kota yang harmonis dan maju,” ujar Agustina.
Ia menjelaskan, pertunjukan Harmoni Semarang menggambarkan perjalanan sejarah dan budaya Kota Semarang, mulai dari dinamika kehidupan masyarakat, semangat perjuangan dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang, hingga tradisi Dugderan yang menjadi simbol persatuan warga lintas agama dan budaya.
Menurut Agustina, Dugderan bukan sekadar tradisi menyambut bulan suci Ramadan, tetapi juga menjadi cerminan kehidupan masyarakat Semarang yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan kebersamaan.
“Dugderan menunjukkan bagaimana masyarakat Semarang hidup dalam keberagaman dan kebersamaan. Tradisi ini menjadi simbol bahwa budaya mampu menyatukan berbagai perbedaan menjadi kekuatan bersama,” jelasnya.












