Bagi Bayu, berbagai program tersebut menjadi pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
“Selama di sini, saya telah mengikuti program Smart Pesantren dari Bapak Kalapas kelas menengah, dan saya juga melakukan pembinaan program kemandirian di greenhouse peternakan lele,” tutur Bayu Mulya.
Dari Belum Bisa Mengaji hingga Mampu Membaca Iqra
Salah satu perubahan paling berkesan bagi Bayu adalah perjalanan spiritual yang ia jalani selama berada di lapas.
Sebelum mengikuti pembinaan keagamaan, ia mengaku belum mampu membaca Al-Qur’an.
Namun, proses belajar yang dijalaninya secara bertahap membuatnya kini mampu membaca hingga Iqra 6 dan mempraktikkan salat lima waktu.
Perubahan tersebut menjadi bekal penting baginya untuk menjalani kehidupan setelah kembali ke rumah.
“Terima kasih Bapak Kalapas atas program yang telah diberikan. Sebelumnya saya belum bisa baca Al-Qur’an, dan sekarang saya sudah bisa membaca Iqra 6, dan saya sudah melakukan praktik sholat 5 waktu,” ungkapnya.












