Menurutnya, pembinaan di dalam pemasyarakatan harus mampu menjadi bekal bagi warga binaan ketika nantinya kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Karena itu, Lapas akan terus memperkuat program pembinaan keagamaan melalui Smart Pesantren maupun pembinaan kemandirian agar semakin banyak warga binaan memiliki keterampilan dan kesiapan untuk menjalani kehidupan setelah bebas.
“Ke depannya, kami di Lapas juga akan terus memperkuat program Smart Pesantren dan pembinaan kemandirian ini agar makin banyak warga binaan yang siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi baru yang bermanfaat,” tuturnya.
Kisah Bayu menjadi gambaran bahwa proses pemasyarakatan tidak semata-mata berbicara tentang menjalani hukuman.
Di balik tembok lapas, terdapat proses panjang untuk membentuk kembali karakter, memberikan keterampilan, serta menumbuhkan kesadaran agar warga binaan mampu menatap masa depan.












