“Grebeg Subali bukan sekadar kegiatan pertunjukan atau perayaan budaya. Kami ingin menjadikannya ruang bersama untuk mengingat kembali cerita dan sejarah Krapyak, melihat perubahan yang terjadi hari ini, sekaligus memikirkan apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Adam di Semarang, Rabu (9/9/2026).
Menurut Adam, warga menjadi bagian penting dari keberlangsungan festival.
Mereka tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi ikut terlibat dalam berbagai kegiatan yang menghubungkan seni, sejarah, dan kehidupan kampung.
“Melalui Grebeg Subali, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat dalam merawat ingatan, kebudayaan, dan identitas kampung,” katanya.
Ia berharap Grebeg Subali dapat tumbuh menjadi tradisi yang semakin kuat sekaligus membuka ruang lebih luas bagi generasi muda untuk mengenal akar budaya di lingkungan tempat mereka tumbuh.












