“Tema Ngeling, Ngilo, Nginguk kami pilih karena Krapyak memiliki banyak cerita dan jejak masa lalu yang penting untuk diingat. Ada ruang, nama tempat, tradisi, dan pengalaman masyarakat yang mungkin secara fisik sudah berubah, tetapi memorinya masih hidup,” ujarnya.
Tri menegaskan, upaya menggali sejarah kampung bukan sekadar menghadirkan nostalgia.
Menurutnya, masa lalu justru dapat menjadi cermin untuk memahami perubahan yang terjadi di tengah masyarakat sekaligus menentukan arah kebudayaan ke depan.
“Grebeg Subali kami rancang bukan untuk membawa masyarakat sekadar bernostalgia. Masa lalu perlu dilihat sebagai cermin untuk memahami kondisi hari ini dan menjadi pijakan untuk menentukan masa depan,” katanya.
Karena itu, berbagai bentuk ekspresi budaya seperti seni pertunjukan, diskusi, pameran, workshop hingga kirab ditempatkan sebagai bagian dari satu perjalanan untuk mengenali kembali identitas Krapyak.












