Kondisi tersebut dinilai memberikan keuntungan dari sisi logistik karena sumber material relatif dekat dengan kawasan yang membutuhkan pembangunan infrastruktur.
“Potensi produksi FABA nasional mencapai sekitar 25,2 juta ton per tahun dan tersebar di PLTU sepanjang Pantura,” katanya.
Dalam pemaparan hasil pengujian, beton berbasis FABA disebut memiliki ketahanan terhadap korosi akibat air laut dan serangan sulfat.
Densitasnya juga sekitar 12 persen lebih rendah dibandingkan beton konvensional, sehingga berpotensi menguntungkan untuk konstruksi di atas tanah lunak kawasan pesisir.
Tak hanya untuk beton, FABA juga dikaji sebagai material timbunan. Hasil pengujian yang dipaparkan menunjukkan material tersebut memenuhi persyaratan geoteknik sebagai timbunan pilihan.
Dari aspek lingkungan, hasil pengujian leaching juga menunjukkan kandungan logam berat berada di bawah baku mutu.












