Materi yang disampaikan juga mengangkat berbagai fenomena yang kerap terjadi di kalangan remaja, seperti terbentuknya kelompok eksklusif atau circle, perilaku saling menghakimi, body shaming, hingga konflik interpersonal yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan kenyamanan siswa.
“Ruang aman bukan berarti semua orang harus selalu setuju satu sama lain, tetapi bagaimana kita bisa saling menghargai tanpa menjatuhkan,” kata Praja.
“Lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat yang membuat siswa merasa nyaman untuk berkembang dan menjadi diri sendiri tanpa takut dikucilkan,” imbuhnya.
Kegiatan diawali dengan pemutaran film pendek yang mengangkat tema pertemanan dan pengucilan sosial.
Setelah menyaksikan film tersebut, para peserta diminta mengisi lembar refleksi untuk menuliskan pandangan, perasaan, serta pelajaran yang diperoleh dari tayangan yang mereka saksikan.












