“Dugderan ini adalah salah satu tradisi yang sangat dekat dengan kehidupan warga Kota Semarang. Kami ingin para kafilah dan tamu MTQ yang datang dari seluruh Indonesia merasakan kehangatan dan mengenal cerita tradisi di kota ini,” ujar Agustina.
Bagi warga Semarang, Dugderan bukan sekadar sebuah perayaan. Bunyi bedug dan meriam yang menjadi asal nama Dugderan, pasar rakyat, kuliner, kesenian, hingga keramaian di kawasan Kauman dan Pasar Johar telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat.
Namun, Nostalgia Dugderan yang digelar pada September ini bukan dimaksudkan untuk menggantikan tradisi Dugderan yang biasanya berlangsung menjelang Ramadan.
Kegiatan tersebut justru menjadi cara untuk menghadirkan kembali suasana dan cerita di balik tradisi Dugderan kepada para tamu yang tengah berada di Kota Semarang dalam rangka MTQ Nasional XXXI.












