Ia menyebut upaya tersebut turut berkontribusi terhadap keberhasilan Kota Semarang dalam menjaga laju inflasi.
Sebagai pusat aktivitas ekonomi di Jawa Tengah, Semarang memiliki peran penting terhadap pembentukan inflasi regional.
“Pengendalian pangan yang kami lakukan bertumpu pada semangat gotong royong. Nilai itu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Semarang selama ratusan tahun,” katanya.
Agustina menilai budaya toleransi dan kolaborasi masyarakat menjadi modal sosial yang kuat dalam mendukung berbagai program pembangunan.
Nilai tersebut, lanjutnya, tercermin dalam filosofi Warak Ngendog yang selama ini dikenal sebagai simbol keberagaman masyarakat Kota Semarang.
Selain mendukung ketahanan pangan, budaya kolaboratif juga dinilai berperan dalam keberhasilan revitalisasi kawasan Kota Lama.
Program penataan kawasan yang dilakukan secara berkelanjutan sejak 2020 mendorong peningkatan kunjungan wisatawan dan menjadikan Semarang sebagai daerah dengan jumlah kunjungan wisata tertinggi di Jawa Tengah selama empat tahun berturut-turut.












