Suasana paduan suara kemudian menjadi gambaran yang digunakan Agustina untuk menggambarkan kehidupan masyarakat Kota Semarang yang terdiri atas berbagai latar belakang.
“Saya melihat kekuatan paduan suara ada pada harmoni. Setiap karakter suara saling melengkapi hingga tercipta alunan yang indah. Begitu pula Kota Semarang, keberagaman yang dirawat dengan inklusivitas akan melahirkan harmoni kota yang kuat,” tuturnya.
Bagi Agustina, kehidupan kota ibarat sebuah paduan suara. Setiap kelompok memiliki karakter dan warna masing-masing, tetapi ketika mampu berjalan bersama, perbedaan tersebut justru menghasilkan harmoni yang lebih indah.
Rangkaian safari keagamaan itu kemudian ditutup di Serambi Utama Masjid Agung Semarang dalam Pengajian Akbar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang digelar Yayasan Badan Pengelola Masjid Agung Semarang.












