“Semakin banyak masyarakat yang melakukan tes HIV, maka semakin besar peluang kasus ditemukan lebih awal sehingga pengobatan dapat segera dimulai dan risiko penularan dapat dicegah,” imbuhnya.
Berdasarkan data Dinkes Kota Semarang, kelompok dengan proporsi temuan kasus tertinggi berasal dari kelompok Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL) sebesar 44 persen.
Selanjutnya, pasien Tuberkulosis (TBC) menyumbang 12 persen, pasangan risiko tinggi 11 persen, populasi umum 11 persen, pasien Infeksi Menular Seksual (IMS) 9 persen, pelanggan pekerja seks 5 persen, serta wanita pekerja seks sebesar 2 persen.
Hakam menjelaskan, deteksi dini menjadi salah satu kunci utama dalam upaya pengendalian HIV.
Dengan mengetahui status HIV sejak awal, seseorang dapat segera memperoleh terapi antiretroviral (ARV) sehingga kondisi kesehatannya tetap terjaga dan risiko berkembang menjadi AIDS dapat dicegah.












