Forum itu tidak hanya menjadi ruang diskusi ilmiah, tetapi juga mendorong lahirnya gerakan bersama untuk menyelamatkan warisan kota-kota maritim Indonesia yang menghadapi berbagai tantangan, seperti perubahan iklim, urbanisasi, degradasi kawasan pesisir, hingga krisis memori akibat derasnya arus informasi digital.
Dalam sambutannya, Wali Kota Semarang yang akrab disapa Agustina itu menegaskan bahwa kota yang maju tidak boleh kehilangan jati dirinya.
Menurutnya, pelestarian sejarah harus berjalan seiring dengan pembangunan modern agar Semarang tetap berkembang sebagai kota yang kompetitif tanpa meninggalkan akar sejarahnya.
“Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi fondasi untuk membangun masa depan. Kota yang memahami sejarahnya akan memiliki identitas yang kuat, karakter yang jelas, dan arah pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Agustina.












