Sementara itu, Prof. Dr. Yety Rochwulaningsih, M.Si., menilai pelestarian sejarah di era digital menghadapi tantangan baru.
Selain ancaman kerusakan fisik bangunan bersejarah, warisan sejarah juga rentan terhadap disinformasi, hoaks, dan bias teknologi.
Karena itu, digitalisasi arsip dan penguatan literasi sejarah menjadi langkah strategis yang perlu terus dikembangkan.
Pandangan serupa disampaikan Prof. Dr. Phil. Ichwan Azhari, M.S., yang menekankan bahwa penyelamatan situs-situs maritim Nusantara merupakan agenda nasional untuk menjaga bukti kejayaan peradaban bahari Indonesia.
Adapun Prof. Dr. Suryadi, M.A., dari Leiden University, Belanda, menyoroti pentingnya kerja sama internasional dalam digitalisasi dan repatriasi arsip kolonial yang hingga kini masih tersimpan di berbagai lembaga di Belanda.
Menurutnya, arsip tersebut memiliki nilai strategis dalam merekonstruksi sejarah kota-kota maritim Indonesia, termasuk Semarang.












