“Ketika saya diundang di California State University, mereka sangat mengapresiasi bagaimana para kader posyandu mampu menjaga kesehatan masyarakat di sekitarnya. Ini menjadi contoh bagaimana rasa tanggung jawab sosial bisa tumbuh dari masyarakat,” ujar Agustina.
Selain sektor kesehatan, kontribusi perempuan juga terlihat dalam gerakan pengelolaan lingkungan “Semarang Wegah Nyampah” melalui bank sampah.
Dengan keterlibatan aktif kader PKK dan komunitas, aktivitas ini mampu mendorong perputaran ekonomi masyarakat hingga mencapai Rp2,2 miliar.
Pemerintah Kota Semarang juga memperkuat komitmen melalui pembentukan 177 Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak yang tersebar di seluruh wilayah kota.
Kelurahan menjadi garda terdepan dalam memastikan perempuan dan anak mendapatkan perlindungan serta ruang untuk berkembang.
Capaian IPG ini menjadi indikator bahwa perempuan di Kota Semarang tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga telah berperan sebagai subjek utama perubahan.












